Monday, 15 June 2026

Gubernur Apolo Ajak Pesentren DDI Al-Munawwaroh Siapkan Generasi Masa Depan

Bernardus
15 June 2026
12 views
3 menit baca
Gubernur Apolo Ajak Pesentren DDI Al-Munawwaroh Siapkan Generasi Masa Depan

Minggu,14 Juni 2026

Merauke - Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo mengajak pesentren DDI Al-Munawwaroh menyiapkan masa depan daerah tersebut

"Mari bersama-sama kita persiapkan anak-anak didik kita, generasi masa depan Papua Selatan, tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga agung secara moral,"kata Apolo dalam sambutan pada Peringatan Hari Ulang Tahun (Milad) ke-20 Pesantren DDI Al-Munawwaroh Merauke, Minggu (14/6/2026).

Lanjut dia, lantaran di tangan merekalah keberlanjutan pembangunan daerah ini akan dititipkan.

Apolo menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dedikasi, pengabdian, karya, serta pelayanan nyata yang telah diberikan, khususnya dalam mendidik anak-anak sebagai generasi penerus bangsa di tanah Papua Selatan.

​"​Jika kita menengok catatan sejarah, para ilmuwan meyakini bahwa perubahan peradaban manusia terjadi secara radikal setiap satu abad sekali,"ujar Gubernur Apolo.

Ia menjelaskan, ​pada 1780 Revolusi Industri I ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Seketika, tenaga manusia (manpower) digantikan oleh tenaga mesin (engine power).

​Tahun 1870 Revolusi Industri II ditemukannya sistem assembly line (produksi massal secara paralel) yang melipatgandakan hasil industri namun kembali mengefisiensikan tenaga manusia.

​Tahun 1954 Revolusi Industri III, lahirnya sistem otomasi elektronik, di mana proses produksi yang semula membutuhkan rantai tenaga manusia, kini berjalan otomatis hanya dengan satu sentuhan tombol.

​Awal Tahun 2000, kata dia, era digital masuknya sistem komputasi dan digitasi yang memangkas waktu kerja dari bulanan menjadi hitungan detik melalui aplikasi dan operator.

"​Hari ini, kita sedang melangkah masuk ke dalam era baru, yaitu Era Algoritma. Sebuah era di mana seluruh sistem dunia menyatu secara global,"kata dia.

Dia mengatakan, apa yang terjadi di satu belahan negara atau kota, akan langsung berdampak sistemik pada wilayah lainnya. Di tengah pusaran perubahan peradaban yang begitu masif ini, kemampuan untuk beradaptasi adalah sebuah keniscayaan.

​Secara umum, kata dia, lembaga pendidikan umum mengejar dua tujuan utama pemberian ilmu pengetahuan teknologi (knowledge education) dan pembekalan keterampilan (skill education) guna melahirkan kompetensi serta kualifikasi yang tinggi.

​Namun, lanjut dia, lembaga pendidikan keagamaan memiliki khitah yang lebih mulia. Lembaga pendidikan keagamaan menempatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan pada prioritas berikutnya, dan menempatkan Pendidikan Nilai (Value Education) sebagai tujuan yang pertama dan terutama.

Apolo menyebut, ​pendidikan nilai adalah penanaman nilai-nilai kemanusiaan universal; bagaimana mendidik generasi kita agar berlaku jujur, adil, disiplin, serta mampu menghargai dan menghormati sesama.

Ia mengatakan, ​sejarah telah membuktikan bahwa seseorang dipercaya, direstui, dan diangkat menjadi pemimpin bukanlah semata-mata karena kecerdasan materi atau penguasaan teknologi yang tinggi.

Menurut dia, seseorang diberikan amanah menjadi pemimpin karena integritasnya-karena kejujurannya, keadilannya, kedisiplinannya, dan rasa hormatnya kepada sesama.

​Oleh karena itu, kata Apolo, di tengah modernisasi kurikulum formal saat ini yang mulai bergeser ke arah digitalisasi dan mengesampingkan porsi pendidikan moral,

"Saya berpesan kepada seluruh pelaku pendidikan termasuk DDI untuk tetap mempertahankan dan memperkuat aspek pendidikan nilai-nilai kemanusiaan universal dalam kurikulum pembelajarannya,"ujarnya.

Gubernur Apolo mengutip sebuah ungkapan bijak dari tokoh kepemimpinan dunia, Nelson Mandela, yang sering digaungkan dalam berbagai pelatihan kepemimpinan: ​"The most important thing is not the gun, but the man behind the gun."

Dia menyatakan, ​hal terpenting dalam peradaban manusia bukanlah senjatanya, bukan teknologinya, dan bukan pula ilmunya semata.

Melainkan, lanjut dia, manusia (the man) yang berada di balik teknologi dan ilmu tersebut.

​Jika ilmu dan teknologi dikendalikan oleh manusia yang memiliki budi pekerti, karakter, dan nilai kemanusiaan yang baik, maka kemajuan tersebut akan membawa kemaslahatan bagi banyak orang.

Sebaliknya, tambah dia, jika dikendalikan oleh tangan yang hampa karakter, maka teknologi tersebut justru dapat menghancurkan peradaban.

Setelah menyampaikan sambutan, Gubernur Apolo Safanpo menyerahkan bantuan dana senilai Rp100 juta untuk pembangunan Pondok Pesantren Al-Munawaroh.

 

Biro Umum Setda Provinsi Papua Selatan

Tags:

Apolo Safanpo, Pesantren DDI Al-Munawwaroh, Pendidikan Karakter, Generasi Masa Depan Papua Selatan

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditinjau oleh admin sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait